AMBIENCE FOR THE FUTURE

Jan 23

Cerita #9 : Manusia Normal

A ku adalah bayi berumur 2 tahun.

Tinggal di sebuah rumah besar yang hampir menyerupai istana; lengkap dengan taman bunga yang indah, kolam renang, dan tempat tidur berlapis emas. Aku tidak tahu yang mana orang tuaku, karena semua penghuni rumah  memiliki wajah yang sama. Mereka semua mengerikan. Mempunyai taring dan nafas berbau bangkai. Mereka senantiasa mengenakan jubah sutra yang mahal untuk menyamarkan  muka mereka yang buruk. Makanan mereka ialah tikus dan kelelawar.

 

Walaupun begitu,  Aku selalu diberi makanan yang sehat setiap hari,  bukannya tikus atau kelelawar, melainkan makanan sehat bayi pada umumnya. Mereka ingin aku tumbuh menjadi manusia normal, bukan seperti mereka.

 

Namun kemewahan dan kesenangan di rumah tidak berarti kebahagiaan bagiku. Aku selalu merasa kesepian dan ingin melihat seperti apa sebenarnya manusia normal yang mereka maksud.

 

 

Maka di suatu malam yang sepi, aku perlahan-lahan menyelinap keluar. Karena belum bisa berjalan, aku merangkak keluar dari jendela kamar tidurku, melewati taman bunga, dan akhirnya menembus pagar dan berhasil mencapai dunia luar.

 

Sudah berhari-hari aku merangkak, belum juga aku menemukan manusia normal seperti yang digambarkan orangtuaku.

Hingga suatu hari aku berhasil tiba di sebuah kota. Kota yang sungguh ramai dan terang benderang.

 

Manusia normal ada dimana-mana..Mereka semua memakai dasi, berambut rapi yang sama, wangi, dan mereka tidak memakan tikus atau kelelawar.

Tapi ada yang aneh dengan mereka, mereka tidak saling sapa, tidak tersenyum, dan terlihat lelah sekali. Hal tersebut membuat aku segan untuk berkenalan. Lagipula, tidak satupun dari mereka yang memperhatikan aku; bayi berumur 2 tahun yang tersesat di tengah kota kaku ini. Aku sungguh kecewa.

Ternyata manusia normal yang diidam-idamkan orang tuaku tidaklah lebih baik. Malah lebih suram.

 

Aku memutuskan untuk pulang ke rumah. Walaupun disana mengerikan, setidaknya disanalah tempat dimana aku merasa dicintai.

 

Tetapi tidak semudah itu. Aku tidak ingat jalan pulang.

Aku sudah tersesat terlalu jauh.

Dan sangatlah lapar.

 

Seekor tikus lewat di hadapanku.

Kini aku harus menentukan pilihanku sendiri; Menangkap tikus itu dan memakannya seperti yang dilakukan orang tuaku, ataukah aku harus tumbuh menjadi manusia normal seperti yang baru saja kusaksikan?  berdasi, berambut rapi yang sama, wangi dan bahkan tak pernah tersenyum?

 

 

 

…Aku  pun cuma bisa mengumpat.

 

 

 

The lucky people will fall asleep inside their sleep… - Douglas Coupland

Cerita #6 : Manusia Sempurna

A ku hanyalah seorang anak dari desa

..yang datang ke kota ini untuk mencari keberuntungan, pekerjaan selayaknya banyak manusia. Namun sudah bertahun-tahun luntang luntung di setiap sudut kota ini, belum juga berhasil kudapatkan pekerjaan, tak satu pun.

 

Suatu hari sepulang melamar kerja, aku bertemu dengan seorang pengemis buta, atau dengan kata lain- ia tak punya mata. Ia berkata padaku, jika aku bersedia memberinya satu buah mata, maka ia akan mengabulkan impianku, menjadi orang kaya raya dengan pekerjaan yang menjanjikan. Bukan itu saja, pengemis buta itu juga menjaminku umur panjang dan ketenaran. Tentu saja aku tergiur. Sudah saatnya aku mengakhiri kemelaratan yang menyedihkan ini. Maka, tanpa basa basi lagi, kuberikan mata kiriku pada pengemis itu. Ia pun bisa melihat, dan berterima kasih padaku.

 

Pengemis itu benar. Ia menepati janjinya. Tidak selang berapa lama, aku berhasil mendapat pekerjaan, dan dalam waktu singkat berhasil menduduki jabatan yang bergengsi. Aku pemimpin sebuah perusahaan besar dan tersohor hingga ke pelosok-pelosok negeri. Aku kaya sekaligus terkenal.

 

Namun ada satu hal yang masih mengganggu pikiranku. Aku hanya memiliki satu buah mata. Aku selalu menolak untuk difoto, dan menyingkirkan semua cermin di rumahku.

Aku orang kaya yang buruk rupa.

 

Suatu hari, aku bertemu seorang pengemis yang sekarat di tepi jalan. Pengemis itu memohon padaku, jika aku bersedia memberikannya hatiku, maka ia akan sembuh dan lolos dari kematian. Aku lalu melakukan penawaran dengannya. Aku bersedia memberikannya hatiku asalkan ia bersedia memberikan imbalan, yakni memberi mata kirinya kepadaku. Pengemis itu setuju.

Maka akupun mengeluarkan hatiku, memberikan padanya dan ia juga melepas mata kirinya lalu memasangnya di samping mata kananku.

 

Aku tersenyum lega. Akhirnya, aku berhasil mendapatkan segalanya. Harta berlimpah, umur panjang, ketenaran, dan wajah yang lengkap.

 

Aku sempurna.

 

 

Ambition makes you look pretty ugly… - Thom Yorke, Paranoid Android

Cerita #4 : Kencan Di Sebuah Rumah Makan

Seorang gadis berhasil kuajak kencan malam ini.

Aku membawanya makan malam ke sebuah rumah makan mewah yang terletak di tengah kota. Salah satu metode paling mujarab untuk menarik perhatian seorang wanita. Salah satu gaya khas eksekutif muda dalam memulai suatu hubungan.

 

Gadis ini sangatlah cantik, terlihat sempurna di segala sisi. Kuliah di universitas paling bergengsi di negeri ini, dan sangat pandai bersosialisasi dengan lingkungannya. Dan malam ini, ia tampak begitu memukau dengan gaun mewahnya yang berkelas.

 

Kami berdua duduk di bangku paling pojok dan memesan menu masing-masing.

 

Ada dua kemungkinan situasi yang terjadi jika seorang pria mengencani wanita sesempurna ini di rumah makan. Satu, si pria terus membual tentang kesuksesan dan segala potensinya demi mengimbangi si wanita; atau dua, si pria terdiam tak bisa berkata-kata karena terpaku akan kecantikan si wanita yang terus menceritakan kesempurnaan hidupnya. Aku terlibat dalam situasi pertama, walaupun tidak bisa menyangkal bahwa aku selalu terdiam jika ia mulai bercerita tentang hidupnya yang sempurna. Aku jadi penasaran, mungkinkah semua ceritanya itu hanya rekaan dia saja? Mungkinkah dia tidak sesempurna yang diceritakannya, sama seperti aku yang memalsukan ceritaku? Entahlah, pada dasarnya, semua manusia pasti memiliki kepalsuan yang mereka tutupi dan dipermak dengan kisah-kisah indah dan menarik. Seperti halnya aku, bahkan seperti wanita sesempurna ia sekalipun.

 

Ditengah perbincangan kami, aku meminta ijin pergi ke toilet. Aku buang air kecil lalu membasuh tanganku.

Aku tidak sendirian dalam ruangan itu. Ada beberapa pria lain yang sedang berdiri menghadap cermin. Dari penampilannya mereka terlihat seperti manusia-manusia kaya dan berpendidikan. Bersih dan wangi. Indah dan bagus.

 

Tiba-tiba aku membelakakkan mata, tidak percaya apa yang sedang kupandangi. Pria-pria itu mendadak membuka pakaian mereka, dan kulit mereka yang semula indah dan bagus itu perlahan mengeluarkan sisik, seperti kulit ular. Mata mereka memerah, sedang mulut mereka mengeluarkan suara mendesis.

Seseorang dari mereka mengambil sejenis ramuan dalam botol lalu mereka meminumnya bersama-sama. Perlahan kulit mereka yang bersisik kembali normal seperti semula. Indah dan bagus.

 

Aku terdiam tak bisa berucap. Tanganku gemetar. Aku bergegas keluar dari ruangan itu lalu kembali ke tempat dudukku. Teman kencanku sepertinya tidak menyadari ketakutanku. Ia tersenyum dan meneguk minumannya. Aku lalu melihat tangannya yang memegang gelas minuman itu perlahan berubah menjadi sisik, seperti kulit ular.

 

…Mendadak aku kehilangan nafsu makan.

 

Escape is everyone’s fantasy… - Stanley Donwood

Cerita 1 : Tidak Terampuni

Keram di otak.

Pandangan nanar. Bumi serasa berputar ke arah yang terbalik. Aneh sekali perasaanku begitu terbangun pagi ini. Kepalaku seperti dimasukkan bola bowling atau sejenis benda berat lain. Bukan karena pengaruh alkohol atau kondisi tubuh yang tak stabil, melainkan kepalaku berputar-putar karena ada sesuatu yang tergenggam di tanganku dan tak bisa kuingat satu alasan pun mengapa benda tersebut berada di sana.  Aku tidak hilang ingatan, juga tidak kehilangan kewarasan. Aku hanya masih belum bisa mengingat apa  yang terjadi semalam. Mengapa tiba-tiba begitu terbangun pagi ini, ada sebuah pistol otomatis berada di genggamanku.

Mungkinkah semalam telah terjadi sesuatu yang buruk dan mengerikan sampai-sampai aku enggan untuk mengingatnya? Ataukah mungkin ada orang lain yang meletakkan pistol ini di tanganku sewaktu aku tidur, untuk suatu tujuan yang tak kuketahui?

 

Keram di otak. Pandangan nanar. Aku tak bisa berpikir, apalagi menjelajahi memori. Kuletakkan pistol itu kedalam lemari, kusembunyikan di sela-sela pakaian yang berhimpitan. Semula pistol

itu hendak kubang ke luar, ke tempat sampah. Namun, orang lain bisa menemukannya dan hal buruk bisa saja terjadi. Jika kusimpan di lemariku, paling tidak aku memegang kendali akan benda itu. Hanya akulah yang mengetahui letaknya. Kututup lemari, menguncinya.

Kucairkan es batu dalam segelas minuman soda lalu duduk ditepi tempat tidurku. Kucoba berkonsentrasi untuk mengenang, membangkitkan memori tentang apa yang terjadi semalam.

Pandanganku lalu menangkap sesuatu di celana tidurku. Cipratan darah!. Tidak begitu banyak, namun membentuk titik-titik merah yang sangat mudah untuk dikenali.

Kilasan kejadian muncul di kepalaku secara acak. Dalam bayanganku aku melihat seseorang berteriak kesakitan, memohon ampun, meminta maaf—kepadaku. Aku menembakkan pistol di kepalanya ketika ia berlutut meminta maaf di hadapanku.

Itu yang terjadi semalam! Aku ingat sekarang!!

 

Bergegas aku menuju ke ruang tamu. Darah berlumuran di lantai. Belum beku, masih mengalir segar. Seseorang terbaring disana dengan tubuh menghadap lantai. Mati.

Dengan hati-hati kubalik tubuhnya untuk mengenali siapa dia sebenarnya. Air mata menetes tak terkendali begitu aku mengenali wajah orang itu. Orang yang sangat kukenal seumur hidupku. Orang yang pernah bersalah kepadaku karena menyia-nyiakan hidupku di waktu lampau, orang yang bertanggung jawab atas segala penderitaan yang kini kualami, orang yang tak bisa kuampuni.

Orang itu adalah diriku di masa lalu.

 

Kubawa mayatnya ke kebun belakang rumah,

…lalu kukuburkan ia untuk selamanya.

 

Man is the only creature that refuses to be what he is - Albert Camus

Apr 14

                                                     [BZZZZTTT]

                                                     [BZZZZTTT]

Jan 16

               [dwell in the room corner while i played an oldschool toy]

               [dwell in the room corner while i played an oldschool toy]